"KEBUDAYAAN SOLO"
LATAR BELAKANG KEBUDYAAN SOLO
Berbicara tentang Kota Solo, tak lepas dari sejarah Kota Solo itu sendiri pada masa lalu. Solo yang merupakan sebutan akrab untuk Kota Surakarta ini adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.Sebelum akhirnya menjadi Kota Solo, rentetan sejarah tidak bisa lepas dari Kesultanan Mataram Islam, yang telah berhasil menancapkan hegemoni kekuasaan di Jawa dengan wilayah kekuasaan yang amat luas, kekuatan militer yang besar, serta kemajuan di berbagai bidang kehidupan.
Sejarah awal kota ini terbentuk ketika pusat pemerintahan Kesultanan Mataram Islam pindah dari Keraton Kartasura ke Desa Sala karena mengalami keruntuhan, yang diketahui disebabkan oleh pemberontakan pasukan gabungan Jawa-Tionghoa yang dipimpin Raden Mas Garendi alias Sunan Kuning.Pemberontakan ‘Geger Pacinan’ diawali dengan dengan pembantaian 10 ribu orang Tionghoa oleh VOC di Batavia (sekarang Jakarta) bulan Oktober 1740, yang kemudian banyak orang Tionghoa melarikan diri ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Adapun mengapa penyebutannya sekarang Kota Solo bukan Kota Sala, karena kesalahan orang-orang Eropa dalam penyebutan nama ini. Lidah mereka susah untuk menyebutkan Kota Sala, jadi mereka menyebutnya Kota Solo.Nah, karena itulah masyarakat Indonesia mengikuti kebiasaan tersebut dan menyebut Sala menjadi Solo. Meskipun nama resmi kota ini adalah Kota Surakarta.Tapi lebih banyak orang yang menyebutnya Kota Solo. Dan dalam dunia marketing pun nama Solo lebih ‘menjual’ daripada nama resminya.
Bagi penduduk Kota Solo, persoalan nama ini tidak perlu di permasalahkan. Sebab bagi rakyat Solo nama Surakarta juga di terima sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan karena nama tersebut adalah nama pemberian dari Sri Sunan Pakubuwono IIJadi demikian baik nama Solo maupun Surakarta akan selalu hadir mencerminkan hubungan saling menghargai antara pemimpin dan rakyat Solo.
BUDAYA-BUDAYA SOLO
SAKETEN
Perayaan yang dilakukan setiap bulan Maulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan khusus pada tanggal 12 Maulud, akan diadakan beberapa rangkaian acara yang disebut Grebeg Maulud. Rangkaian Grebeg Maulud
Meski terkenal dengan Islamnya yang kuat, tapi ternyata Solo masih menjunjung tinggi sikap toleransi. Buktinya , masyarakat Solo masih merayakan Grebeg Sudiro. Sebuah perayaan yang diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa.
Merupakan sebuah ritual untuk mengirimkan doa kepada para arwah leuhur dan ahli waris yang sudah meninggal duniayang diadakan setiap bulan Ruwah atau setiap menjelang bulan puasa Ramadhan. Yang paling utama adalah pembacaan doa Yasin dan tahlil zikir bersama.
Uniknya, semua masyarakat datang berbondong-bondong untuk mengikuti upacara adat ini untuk bersilaturahmi dan menjalin persaudaraan dengan saling mengunjungi rumah per rumah. Maksud dan tujuan lainnya yaitu ikut mencari berkah kepada para leluhur yang telah meninggal dunia.
Kuatnya nilai-nilai tradisi pada masyarakat yang masih menjalankan didasari oleh keyakinan bahwa setelah upacara tradisional Sadranan dilaksanakan, maka dalam bekerja untuk mencari nafkah akan diberikan kelancaran dan kemudahan
KIRAB 1 SURO
Sebuah acara untuk merayakan tahun baru 1 Suro berupa keliling kota sejauh 3 km. Pusaka-pusaka yang dianggap memiliki kekuatan magis dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawa Jangkep. Kirab yang berada di depan adalah sekelompok Kebo Bule bernama Kyai Slamet, sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya. Acara ini diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Puro Mangkunegaran yang dilaksanakan pada malam hari menjelang tanggal 1 Suro.
TARI BEDHAYA KETAWANG
Sebuah tari yang disakralkan dan hanya digelar dalam setahun sekali. Konon, di dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram.
Asal mulanya tari Bedhaya Ketawang hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Dalam perkembangan selanjutnya, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang.
Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton Surakarta Hadiningrat. Iramanya pun terdengar lebih halus dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi.
PERNIKAHAN ADAT ISTIADAT SOLO
Pernikahan Kahiyang Ayu disebut menggunakan adat tradisional Solo, lebih tepatnya Jawa Klasik. Dalam prosesi pernikahan tersebut, ada yang namanya budaya Busana Basahan. Busana Basahan tersebut berarti bahwa Kahiyang akan menggunakan pakaian adat kebesaran Solo.
Selain Busana Basahan, pernikahan Kahiyang juga menggunakan budaya Gending Langka. Gending Langka adalah sebuah musik Jawa klasik yang dimainkan menggunakan gamelan untuk mengiringi prosesi pernikahan
PELAKSANAAN PRA NIKAH ADAT SOLO
Nontoni
Bagian pertama dari rangkaian prosesi pernikahan solo adalah Nontoni. Proses nontoni ini dilakukan oleh pihak keluarga pria. Tujuan dari nontoni adalah untuk mengetahui status gadis yang akan dijodohkan dengan anaknya, apakah masih legan (sendiri) atau telah memiliki pilihan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar jangan sampai terjadi benturan dengan pihak lain yang juga menghendaki si gadis menjadi menantunya.
Panembung
Panembung dapat diartikan sebagai melamar. Dalam melamar seorang gadis yang akan dijadikan jodoh, biasanya dilakukan sendiri oleh pihak pria disertai keluarga seperlunya. Tetapi bagian ini bisa juga diwakilkan kepada sesepuh atau orang yang dipercaya disertai beberapa orang teman sebagai saksi. Setelah pihak pria menyampaikan maksud kedatangannya, orangtua gadis tidak langsung menjawab boleh atau tidak putrinya diperistri. Untuk menjaga tata trapsila, jawaban yang disampaikan kepada keluarga laki-laki akan ditanyakan dahulu kepada sang putrid. Untuk itu pihak pria dimohon bersabar
Paningset
Apabila sang gadis bersedia dijodohkan dengan pria yang melamarnya, maka jawaban akan disampaikan kepada pihak keluarga pria, sekaligus memberikan perkiraan mengenai proses selanjutnya. Hal ini dimaksudkan agar kedua keluarga bisa menentukan hari baik untuk mewujudkan rencana pernikahan. Pada saat itu, orangtua pihak pria akan membuat ikatan pembicaraan lamaran dengan pasrah paningset (sarana pengikat perjodohan). Paningset diserahkan oleh pihak calon pengantin pria kepada pihak calon pengantin wanita paling lambat lima hari sebelum pernikahan.

Komentar
Posting Komentar